Selasa, 06 Desember 2016
Rabu, 09 November 2016
EKSISTENSI BAHASA INDONESIA DI TENGAH BUDAYA LUAR DAN PENGARUH GLOBALISASI
Bahasa Indonesia bukan
hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai
pemersatu bangsa Indonesia. Namun, kini
kita tengah memasuki abad dimana terjadi
perubahan-perubahan pada eksistensi bahasa Indonesia terutama pada bahasa
Indonesia populer. Eksistensi Bahasa Indonesia yang merupakan jati diri bangsa
Indonesia pada era globalisasi sekarang ini perlu dibina dan dimasyarakatkan
oleh setiap warga negara Indonesia.Hal ini diperlukan agar bangsa Indonesia
tidak terbawa arus oleh pengaruh dan budaya asing yang tidak sesuai dengan
bahasa dan budaya bangsa Indonesia.Pengaruh alat komunikasi yang begitu canggih
harus dihadapi dengan memertahankan jati diri bangsa Indonesia, termasuk jati
diri bahasa Indonesia. Ini semua menyangkut kedisiplinan berbahasa nasional,
dengan mematuhi semua kaidah atau aturan pemakaian bahasa Indonesia.Namun pada
era globalisasi ini, yaitu era yang ditandai pesatnya perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi, memungkinkan budaya asing, termasuk bahasa, masuk ke
Indonesia.
Generasi muda justru
lebih bangga berbicara menggunakan bahasa asing, meskipun tidak paham betul
artinya.Mereka lebih memilih bahasa asing karena bahasa asing, khususnya bahasa
Inggris, menjadi bahasa internasional yang dianggap keren bagi generasi muda yang
tumbuh di era serba praktis ini.Penggunaan bahasa asing ini menjadikan
penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan masyarakat semakin terdesak, karena
banyak masyarakat Indonesia kurang paham arti penting bahasa Indonesia dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal UNESCO, badan PBB yang bertugas di
bidang kebudayaan negara-negara di dunia, telah menyatakan bahwa bahasa
Indonesia merupakan salah satu dari bahasa internasional, tetapi bangsa
pemiliknya justru lebih bangga menggunakan bahasa bangsa lain.
Disiplin berbahasa
Indonesia akan membantu bangsa Indonesia untuk mempertahankan dirinya dari
pengaruh negatif asing atas kepribadiannya sendiri.Bahasa Indonesia diuji di
era globalisasi ini karena mulai menurunnya kecintaan dan kebanggaan masyarakat
berbahasa persatuan di negeri ini. Dengan zaman yang modern dan canggih inipun
perkembangan bahasa indonesia populer menjadi sangat pesat. Namun, makin berkembangnya waktu, maka
pemakaian bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari mulai bergeser digantikan
dengan pemakaian bahasa Indonesia populer atau yang lebih dikenal dengan bahasa
gaul. Umumnya, anak remaja sekarang menganggap kalau tidak mengerti bahasa gaul
berarti remaja tersebut tidak gaul. Bahasa Indonesia populer pun makin meraja dikalangan masyarakat
terutama para remaja, bahkan tak jarang orang
berpendidikan pun memakai bahasa populer. Baik dalam bentuk lisan maupun
tulisan dan juga dalam waktu formal
maupun nonformal. Hal ini dikarena pengaruh globalisasi dengan tekonologi yang
canggih, yang mampu memengaruhi bahasa populer tersebut menjadi bahasa
sehari-hari mereka dalam bermasyarakat.
Di era globalisasi ini,
semakin besar tantangan bahasa Indonesia untuk tetap memegang peranan sebagai
jati diri bangsa. Karena sekarang lebih banyak peranan bahasa asing daripada
Bahasa Indonesia sendiri.Dan bangsa Indonesia pun lebih disibukkan untuk
mempelajari bahasa asing dibandingkan bahasanya sendiri.Ini yang perlu di
khawatirkan dari dampak era globalisasi saat ini. Berbagai penyebab pergeseran
pemakaian bahasa Indonesia, tidak hanya disebabkan oleh bahasa asing tetapi
juga disebabkan oleh adanya interferensi bahasa daerah dan pengaruh bahasa
gaul. Dewasa ini bahasa asing lebih sering digunakan daripada bahasa Indonesia
hampir di semua sektor kehidupan. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia lebih
sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk
“berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah
pada saat lebaran, dan masih banyak contoh lain yang mengidentifikasikan bahwa
masyarakat Indonesia lebih menganggap bahasa asing lebih memiliki nilai.
Ketidaktertarikan
bangsa indonesia untuk mengasah kemampuannya pada penggunaan bahasa Indonesia
adalah karena Bangsa Indonesia khususnya yang masih duduk di bangku sekolah ini
menganggap bahwa bahasa Indonesia sudah digunakkan dalam keseharian mereka dan
bukan sesuatu yang harus diberikan perhatian khusus. Dari fenomena ini, sangat
perlu kritisasi dari pihak pendidik untuk mencari cara yang inovatif untuk mengembangkan
minat para siswa dalam memperdalam penguasaan terhadap penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Di era globalisasi ini, dengan adanya berbagai
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sangat berpengaruh terhadap
eksistensi bahasa Indonesia.Namun demikian, dengan kemajuan teknologi
seharusnya bisa kita manfaatkan dalam mempertahankan bahasa Indonesia.
Era globalisasi memang
merupakan tantangan besar bagi seluruh dunia termasuk bangsa Indonesia untuk
dapat mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat
rumit.Bahkan dalam berbahasa yang selalu kita gunakan dalam kehidupaan
sehari-hari, yang dapat memberi dampak besar bagi jati diri bangsa yang
diperlihatkan melalui jati diri bahasa. Eksistensi bahasa Indonesia populer pun
manjadi semakin pesat.Era
globalisasi akan menyentuh semua aspek kehidupan, termasuk bahasa. Bahasa yang
semakin global dipakai oleh semua bangsa di dunia ialah bahasa Inggris, yang
pemakainya lebih dari satu miliar.
Bahasa Inggris, misalnya, walaupun pemakainya semakin besar
sebagai bahasa kedua, masyarakat suatu negara akan semakin kuat juga
memertahankan bahasa ibunya,
Perkembangannya dikarenakan era globalisasi yang terjadi sekarang ini. Dengan
adanya dampak positif maupun negatif yang ada membuat di era globalisasi yang
dapat mengubah segalanya. Banyak pengaruh globalisasi bagi eksistensi bahasa
Indonesia populer, sehingga memunculkan masalah-masalah sosial baru. Masalah
menjadi bertambah ketika penulisan kata bahasa Inggris yang belum secara
resmi dibahasa Indonesiakan ditulis dengan ejaannya pada lafal bahasa
Indonesia. Remaja melakukan ragam dalam penulisan tersebut sebab memiliki
beberapa dorongan seperti agar dikatakan memiliki kreatifitas, gaul, dan
berpengetahuan luas. . Banyak juga remaja yang lebih suka mempelajari bahasa
asing daripada bahasa nasionalnya sendiri. Seiring dengan pengaruh globalisasi
yang menuntut kita untuk pandai dalam bahasa Inggris, hal itu juga mendorong
kita untuk lebih mempelajari bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memang
memegang peranan penting dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, peningkatan pendidikan bahasa
Indonesia di sekolah-sekolah perlu dilakukan melalui peningkatan kemampuan akademik
para pengajarnya. Demikian juga halnya dengan Bahasa dan Sastra Indonesia
sebagai sarana pengembangan penalaran, karena pembelajaran bahasa Indonesia
selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan
kemampuan berpikir, bernalar, dan kemampuan memperluas wawasan.
Rabu, 22 Juni 2016
TUGAS SOFTSKIL
PERKENALAN
Setelah sebuah organisasi telah menentukan strategi TI ingin mengejar, menggunakan tahap desain layanan siklus hidup untuk membuat layanan baru transisi layanan yang kemudian memperkenalkan ke lingkungan hidup. Dengan demikian, Layanan desain bertujuan untuk mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa layanan baru yang akan melakukan seperti yang direncanakan dan memberikan fungsidan manfaat yang dimaksudkan oleh bisnis. Prinsip ini adalah inti dari pendekatan ITILdan mengapa sebagian besar proses desain layanan berfokus pada pengendalianoperasional:
• Manajemen Katalog Layanan;
• Manajemen tingkat layanan;
• Kapasitas manajemen;
• Desain koordinasi;
• Ketersediaan manajemen;
• ITSM kontinuitas;
• Manajemen keamanan informasi;
• Manajemen pemasok.
Kontribusi yang membuat tahap desain layanan siklus hidup karena itu dapat diringkas sebagai memastikan terciptanya hemat biaya layanan yang menyediakan tingkat kualitas yang diperlukan untuk memenuhi pelanggan dan stakeholdersepanjang hidup layanan.
Namun, kenyataan bahwa kebutuhan bisnis berubah seiring waktu dan menghasilkan kebutuhan atau kesempatan untuk perbaikan lebih lanjut, yang berarti bahwa bahkan sebuah organisasi dengan matang layanan desain proses akan perlu untuk membuat perubahan ke layanan sepanjang hidup mereka. Layanan Desain karena itu memilikiperan penting untuk bermain dalam mendukung peningkatan pelayanan terus-menerus dan pentingnya untuk mengelola perubahan layanan yang ada seperti dimerancang layanan baru. Dalam hal ini, Layanan desain juga harus mempertimbangkan dampak dari kegiatan-kegiatannya pada layanan secara keseluruhan, sistem, arsitektur, alat dan pengukuran untuk meminimalkan potensi gangguan ketika layanan baru atau diubah diperkenalkan ke dalam lingkungan hidup.
MENGAPA LAYANAN DESAIN?
Tanpa desain layanan mapan, Layanan akan menjadi kebutuhan kurang stabil dan lebih mahal untuk mempertahankan dan menjadi semakin kurang mendukung bisnis dan pelanggan. Selain itu, biaya mengoreksi kekurangan-kekurangan ini hampir selalu lebih tinggi dari pada biaya yang akan dikeluarkan untuk mencegah mereka pada tahap desain.
Tidak setiap perubahan akan memerlukan layanan desain kegiatan. Agak inidiperuntukkan bagi perubahan 'penting'. Masing-masing organisasi harus memutuskan definisi sendiri 'penting' dan menggunakan proses manajemen perubahan untuk menilai pentingnya masing-masing berubah dan oleh karena itu apakah layanan desain kegiatan perlu digunakan. Pelayanan yang baik desain akan memberikan berbagai manfaat bisnis yang membantu menggaris bawahi pentingnya dalam desain layanan baru dan berubah. Seperti diringkas dibawah ini:
• Rendah biaya layanan karena dukungan dan peningkatan biaya yang lebih rendah,terkemuka untuk mengurangi total biaya kepemilikan (TCO).
• Layanan yang secara konsisten memberikan tingkat yang diperlukan kualitas dan keselarasan bisnis dan pelanggan kebutuhan.
• Lebih cepat dan mudah pengenalan layanan baru dan perubahan.
• Tata-pemerintahan yang lebih baik untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan hukum dan perusahaan dan Pedoman.
• Kemampuan pengukuran lebih baik untuk mendukung pengambilan keputusan dan terus-menerus perbaikan.
Miskin perencanaan, persiapan dan manajemen adalah alasan umum untuk kegagalan rencana dan proyek pada umumnya dan desain dan penggunaan baru dan yang diubah Jasa khususnya. ITIL membantu mencegah hal ini dengan menawarkan bimbingan pada persiapan dan perencanaan penggunaan orang-orang, proses,produk dan mitra:
Ps empat desain layanan. (NB Hal ini penting untuk tidak membingungkan dengan Psempat strategi layanan yang dibahas dalam Bab 2.)
LIMA ASPEK UTAMA LAYANAN DESAIN
ITIL secara resmi mengakui lima aspek-aspek layanan desain yang bersama-sama
Jelaskan dalam lingkup ini bagian dari siklus hidup Layanan:
• Pengenalan layanan baru atau yang berubah melalui akurat identifikasi kebutuhanbisnis dan definisi yang disepakati persyaratan layanan.
• Sistem manajemen layanan dan alat-alat seperti portofolio layanan,
memastikan konsistensi bersama dengan layanan lainnya dan tepat alat dukungan.
• Kemampuan arsitektur teknologi dan sistem manajemen untuk mengoperasikan danmemelihara layanan baru.
• Kemampuan semua proses, bukan hanya mereka dalam Layanan Desain, untukmengoperasikan dan memelihara baru dan mengubah layanan.
• Merancang dalam metode pengukuran yang tepat dan metrik yang diperlukanuntuk analisis kinerja layanan, meningkatkan pengambilan keputusan dan terus-menerus perbaikan.
TUJUAN LAYANAN DESAIN
Dari pertimbangan di atas, kita dapat menghargai bahwa tujuan utama dari layanan desain adalah:
• merancang layanan yang tidak hanya memenuhi bisnis dan pemangku kepentingan tujuan dalam hal kualitas, kemudahan penggunaan, kepatuhan dan keamanan, tetapi juga meminimalkan total biaya kepemilikan;
• untuk merancang kebijakan yang efisien dan efektif, rencana, proses, arsitektur dan kerangka kerja untuk mengelola layanan di seluruh siklus hidup mereka;
• untuk mendukung layanan transisi dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko yang terkait dengan memperkenalkan layanan baru atau diubah;
• merancang sistem pengukuran untuk menilai efisiensi dan efektivitas desain layanan dan kiriman nya;
• untuk berkontribusi peningkatan pelayanan terus-menerus (CSI), terutama dengan merancang fitur dan manfaat dan kemudian menanggapi peluang perbaikan diidentifikasi dari lingkungan operasional.
LAYANAN DESAIN PAKET
Tahap desain mengambil serangkaian kebutuhan bisnis baru atau diubah dan mengembangkan solusi untuk bertemu dengan mereka. Solusi yang dikembangkan dilewatkan ke layanan transisi ke dibangun, diuji dan digunakan dalam lingkungan hidup.
Namun, hal ini tidak cukup hanya untuk lulus teknis atau arsitektur desain untuk layanan transisi. Tim layanan transisi akan membutuhkan lebih dari ini untukmemberikan layanan yang berfungsi penuh yang menyediakan utilitas dan garansiyang diharapkan. Mereka membutuhkan cetak biru yang mencakup semua aspek layanan baru. Cetak biru ini dikenal sebagai paket desain layanan.
LAYANAN DESAIN PAKET
(Layanan desain) dokumen mendefinisikan semua aspek layanan IT dan kebutuhan mereka melalui setiap tahap dari siklus hidupnya. Layanan Desain paket diproduksi untuk setiap layanan TI baru, perubahan besar atau IT layanan pensiun.
Isi utama layanan paket desain meliputi:
• definisi layanan, kebutuhan bisnis disepakati dan bagaimana dan di mana Layanan akan digunakan;
• Desain layanan termasuk desain arsitektur, persyaratan fungsional, SLRs / SLA (jikatersedia), Jasa, dan persyaratan operasional manajemen termasuk metrik dan key performance indikator, mendukung layanan dan
Perjanjian;
• Layanan model menampilkan keseluruhan struktur dan dinamika layanan,menampilkan bagaimana pelanggan dan layanan aset, fungsi-fungsi manajemen layanan dan proses datang bersama-sama untuk memberikan nilai;
• sebuah penilaian kesiapan organisasi dan implikasinya;
• rencana yang mencakup seluruh tahapan siklus hidup Layanan;
• rencana untuk transisi Layanan (meliputi membangun dan perakitan, tes, rilis, danpenyebaran) dan untuk penerimaan operasional;
• kriteria penerimaan dan strategi dan rencana untuk penerimaan penggunapengujian.
Selasa, 19 Januari 2016
tugas soft skill tou 2 pertemuan ke 4 lanuari putra /15114977
Pengambilan keputusan dalam organisasi
Pengambilan Keputusan
Dalam Organisasi
Pengambilan keputusan adalah
tindakan pemilihan alternatif. Hal ini berkaian dengan fungsi manajemen.
Menurut Herbert A. Simon, ahli teori kepufusan dan organisasi
mengonseptualisasikan tiga tahap utama dalam proses, pengambilan keputusan: (l)
Aktivitas inteligens, (2) Aktivitas desain, (3) Aktivitas memilih. Dan definisnya
sebagai berikut :
a) Aktivitas
inteligensi. Berasal dari pengertian militer “intelligence,” Simon
mendeskripsikan tahap awal ini sebagai penelusuran kondisi lingkungan yang
memerlukan pengambilan keputusan.
b) Aktivitas desain. Selama
tahap kedua, mungkin terjadi tindakan penemuan,
pengembangan, dan analisis masalah.
c) Aktivitas memilih. Tahap
ketiga dan terakhir ini merupakan pilihan sebenarnya-memilih tindakan tertentu
dari yang tersedia.
Tahap
ketiga dan terakhir ini merupakan pilihan sebenarnya-memilih tindakan tertentu
dari yang tersedia. Sedangkan Mintzberg a koleganya mengemukakan
tentang langkah-langkah pengambilan keputusan, yaitu: (1) Tahap identifikasi
(2) Tahap pengembangan, dan (3) Tahap seleksi. Dan definisnya
sebagai berikut :
a) Tahap identifikasi, di
mana pengenalan masalah atau kesempatan muncul
dan diagnosis dibuat Diketahui bahwa masalah yang berat mendapatkan
diagnosis yang ekstensif dan sistematis, tep masalah yang sederhana tidak.
b) Tahap pengembangan, di
mana terdapat pencarian prosedur atau solusi standar yang
ada as mendesain solusi yang baru. Diketahui bahwa proses desain
merupakan proses pencarian d percobaan di mana pembuat keputusan hanya mempunyai
ide solusi ideal yang tidak jelas.
c) Tahap seleksi, di mana
pilihan solusi dibuat. Ada tiga cara pembentukan seleksi:
denganpenilainn pembuat keputusan, berdasarkan pengalaman atau intuisi,
bukan analisis logis; dengan analisis alternatif yang logis dan sistematis; dan
dengan tnwar-menawar saat seleksi melibatkan kelompok pembuat
keputusan dan semua manuver politik yang ada. Sekali keputusan diterima secara
formal, otorisasi pun kemudian dibuat.
JENIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi
Keputusan
yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu
mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Pengambilan
keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk
masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan
yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan
keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya
dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan keputusan intuitif hanya
diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.
2. Pengambilan Keputusan Rasional
Keputusan yang bersifat
rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah – masalah yang dihadapi
merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat
berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat,
keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat
terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.
3. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta
Ada yang berpendapat bahwa
sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai.
Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi.
Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data.
Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data
harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar
pengambilan keputusan. Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data
atau informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid,
namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.
4. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman
Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil
keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah
terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip
penhambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa
lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka
pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan
situasi dan kondisi saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara
yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul. Dalam hal
tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan
masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi
pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang
menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat
membantu dalam memudahkan pemecaha masalah.
5. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang
Banyak sekali keputusan yang diambil karena
wewenang (authority) yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi
pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan
dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang
efektif dan efisien. Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata akan
menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial.
Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering
melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang
jelas.
IMPLIKASI MANAJERIAL PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM
ORGANISASI
Proses Pengambilan Keputusan dalam partisipatif dalam
organisasi sekolah Manajerial yang baik. Rendahnya kemapuan kepala sekolah akan
berpengaruh terhadap perolehan dukungan dari masyarakat khususnya dukungan
dalam mengambilan keputusan yang dikeluarkan sekolah terkait dengan kebijakan
dan rencana program pengembangan sekolah.
Daftar pustaka:
https://hasanismail25.wordpress.com/2013/05/15/bab-5-dan-6-definisi-dan-dasar-pengambilan-keputusan/
soft skill TOU2 pertemuan ke 2 lanuari putra / 15114977
Pengambilan keputusan dalam organisasi
Pengambilan Keputusan
Dalam Organisasi
Pengambilan keputusan adalah
tindakan pemilihan alternatif. Hal ini berkaian dengan fungsi manajemen.
Menurut Herbert A. Simon, ahli teori kepufusan dan organisasi
mengonseptualisasikan tiga tahap utama dalam proses, pengambilan keputusan: (l)
Aktivitas inteligens, (2) Aktivitas desain, (3) Aktivitas memilih. Dan definisnya
sebagai berikut :
a) Aktivitas
inteligensi. Berasal dari pengertian militer “intelligence,” Simon
mendeskripsikan tahap awal ini sebagai penelusuran kondisi lingkungan yang
memerlukan pengambilan keputusan.
b) Aktivitas desain. Selama
tahap kedua, mungkin terjadi tindakan penemuan,
pengembangan, dan analisis masalah.
c) Aktivitas memilih. Tahap
ketiga dan terakhir ini merupakan pilihan sebenarnya-memilih tindakan tertentu
dari yang tersedia.
Tahap
ketiga dan terakhir ini merupakan pilihan sebenarnya-memilih tindakan tertentu
dari yang tersedia. Sedangkan Mintzberg a koleganya mengemukakan
tentang langkah-langkah pengambilan keputusan, yaitu: (1) Tahap identifikasi
(2) Tahap pengembangan, dan (3) Tahap seleksi. Dan definisnya
sebagai berikut :
a) Tahap identifikasi, di
mana pengenalan masalah atau kesempatan muncul
dan diagnosis dibuat Diketahui bahwa masalah yang berat mendapatkan
diagnosis yang ekstensif dan sistematis, tep masalah yang sederhana tidak.
b) Tahap pengembangan, di
mana terdapat pencarian prosedur atau solusi standar yang
ada as mendesain solusi yang baru. Diketahui bahwa proses desain
merupakan proses pencarian d percobaan di mana pembuat keputusan hanya mempunyai
ide solusi ideal yang tidak jelas.
c) Tahap seleksi, di mana
pilihan solusi dibuat. Ada tiga cara pembentukan seleksi:
denganpenilainn pembuat keputusan, berdasarkan pengalaman atau intuisi,
bukan analisis logis; dengan analisis alternatif yang logis dan sistematis; dan
dengan tnwar-menawar saat seleksi melibatkan kelompok pembuat
keputusan dan semua manuver politik yang ada. Sekali keputusan diterima secara
formal, otorisasi pun kemudian dibuat.
JENIS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI
1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi
Keputusan
yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu
mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Pengambilan
keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk
masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan
yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan
keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya
dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan keputusan intuitif hanya
diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.
2. Pengambilan Keputusan Rasional
Keputusan yang bersifat
rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah – masalah yang dihadapi
merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat
berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat,
keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan optimal masyarakat dapat
terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.
3. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta
Ada yang berpendapat bahwa
sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai.
Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi.
Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data.
Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data
harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar
pengambilan keputusan. Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data
atau informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid,
namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.
4. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman
Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil
keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah
terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip
penhambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa
lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka
pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan
situasi dan kondisi saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara
yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul. Dalam hal
tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan
masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi
pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang
menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat
membantu dalam memudahkan pemecaha masalah.
5. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang
Banyak sekali keputusan yang diambil karena
wewenang (authority) yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi
pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan
dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang
efektif dan efisien. Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata akan
menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial.
Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering
melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang
jelas.
IMPLIKASI MANAJERIAL PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM
ORGANISASI
- Proses Pengambilan Keputusan dalam partisipatif dalam organisasi sekolah Manajerial yang baik. Rendahnya kemapuan kepala sekolah akan berpengaruh terhadap perolehan dukungan dari masyarakat khususnya dukungan dalam mengambilan keputusan yang dikeluarkan sekolah terkait dengan kebijakan dan rencana program pengembangan sekolah.
Daftar pustaka:
https://hasanismail25.wordpress.com/2013/05/15/bab-5-dan-6-definisi-dan-dasar-pengambilan-keputusan/
Minggu, 22 November 2015
TUGAS KE 3 KEPIMPINAN
Kepemimpinan
Pengertian
Kepemimpinan
Kepemimpinan
adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya
dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan
adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti pemagangan
pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang
ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
Tipe-Tipe
Kepemimpinan
1)
Tipe pemimpin Otokratis
·
Yaitu
seorang pemimpin yang bercirikan:
·
Menganggap
organisasi sebagai milik pribadi
·
Keras
dalam mempertahankan prinsip
·
Jauh
dari bawahan
·
Tidak
mau menerima kritik, saran, dan pendapat
·
Perintah
diberikan secara paksa
Contoh
pemimpin dengan tipe otokratis yaitu Muammar Abu Minyar al-Qaddafi atau Muammar
Khaddafi, dia adalah penguasa otokratis de facto Libya dari 1969 sampai 2011,
setelah merebut kekuasaan dalam kudeta militer.Dia menghapuskan Konstitusi
Libya tahun 1951 dan menerapkan undang-undang berdasarkan ideologi
politiknya.Kekuasaan yang hampir 42 tahun telah menempatkannya menjadi penguasa
terlama sebagai pemimpin non-kerajaan keempat sejak tahun 1900 dan terlama
sebagai pemimpin penguasa Arab.Dia menyebut dirinya sebagai "The Brother
Leader", "Guide of the Revolution", dan "King of Kings
(Raja segala raja)".Setelah berhasil merebut kekuasaan, Khaddafi mulai
menghilangkan oposisi dan kehidupan warga Libya menjadi dibatasi.Ideologi Khaddafi
disebut Teori Internasional Ketiga yang dijelaskan dalam Buku Hijau.Keluarga
Khaddafi mengambil alih sebagian besar perekonomian Libya.Khaddafi menggunakan
miliaran pendapatan minyak untuk proyek-proyek internasional. Dia memulai
perang dengan memerintahkan orang lain dan menggunakan senjata nuklir dan bahan
kimia sebagai senjata pemusnah massal. Diam-diam, ia mengalokasikan pendapatan
negara untuk mensponsori teror dan kegiatan politik lainnya di seluruh dunia
2)
Tipe Militeristis
Yaitu
seorang pemimpin yang bercirikan :
·
Sering
mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan bawahannya
·
Senang
bergantung pada pangkat dan jabatan dalam menggerakkan bawahannya
·
Menuntut
disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
·
Segala
sesuatu bersifat formal
Contoh
pemimpin dengan tipe militeris yaitu Hirohito ( kasiar jepang ke-124) dalam
sejarah jepang dia adalah kasiar dengan masa jabatan terlama dari 1926 – 1989
dan merupakan tokoh penting dalam perang dunia II dan pembangunan kembali
jepang. Masa kekuasaannya sebagai kaisar dikenal dengan era showa ( Damai,
cerah budi ), di indonesia sendiri ketika indonesia di bawah kekuasaan jepang
Hirohito dikenal sebagai Tenno Heika ( Yang mulia kaisar ).
3)
Tipe Paternalistis
Yaitu
seorang pemimpin yang:
·
Menganggap
bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
·
Bersikap
terlalu melindungi
·
Pemimpin
bertindak sebagai bapak
·
Keputusan
di tangan pemimpin
Contoh
pemimpin dengan tipe paternalistis yaitu George Washington presiden Amerika
Serikat yang pertama dengan masa jabatan 30 April 1789 – 4 Maret 1797. Pada
umur 21 tahun beliau masuk tentara dan diangkat menjadi letnan kolonel saat
mengikuti wajib militer oleh gubernur negara bagian virginia. Ketika umur 33
tahun dia memihak dan memipin rakyat
virginia yang memberontak melawan orang – orang inggris. Pada tahun 1775 ia diangkat menjadi panglima
tertinggi oleh kongres kontinental, yaitu kongres ke 13 daerah jajahan inggris.
pada tahun 1789 setelah konstisusi disahkan, ia dipilih dengan suara bulat
menjadi presiden amerika yang pertama.
4)
Tipe Open Leadership
·
Berpartisi
aktif dalam kegiatan organisasi
·
Bersifat
terbuka
·
Bawahan
diberi kesempatan untuk memberi saran dan ide-ide baru
·
Keputusan
ada di tangan pemimpin
·
Menghargai
potensi individu
5)
Tipe Laissez Faire
Yaitu
seorang yang bersifat:
·
Memberi
kebebasan kepada para bawahan
·
Pimpinan
tidak terlibat dalam kegiatan
·
Semua
pekerjaan dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan
6)
Tipe Demokratis
Yaitu
tipe yang bersifat:
·
Berpartisipasi
aktif dalam kegiatan organisasi
·
Bersifat
terbuka
·
Senang
menerima saran, pendapat bahkan kritik.
Fungsi
dari pemimpin dalam organisasi.
Seorang
kepemimpinan dalam suatu organisasi Akan sangat mempengaruhi gerak laju dari
organisasi itu sendiri.kepimpinan dalam organisasi merupakan pengaruh antar
priadi yang dilakukan situasi, melalui proses komunikasi dan di arahkan
pencapaian tujuaan .namun tetapi , pada zaman modern ini bangak terjadi konflik
dalam organisasi karena tidak kesetujuaan antara dua atau lebih anggota
organisasi .bahkan tidak bekerja sama antara ketua dan bawahan .akhirnya
disitulah terjadi konflik amtara satu
samaa
lain.adapula fungsi dan tugas kepemimpinan dalam organisasi.
Tugas
pokok Kepemimpinan dalam organisasi
Tugas
pokok seorang pemimpin yaitu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen seperti telah
yang di sebutkan sebelumnya yang terdiri dari merencanakan menorganisasikan ,
mennggerakan dan mengawasi .Agar orang- orang yang memimpin mau bekerja secara
efektif seorang pemimipin harus memiiki inisiatif dan kreatif harus selalu
memperhatikan hubungan manusiawi.secara lebih terperinci tugas- tugas seorang
pemimpin meliputi ; pengambilan keputusan menetapkan sasaran dan menyusun
kebijaksanaan ,mengorganisasikan dan menempatkan pekerja, mengkordinasikan
kegiatan-kegiatan secara vertical ( antara bawahan dan atasan )auun secara
horizontal ( antar bagian atau unit ),serta memimpin dan mengawasi pelaksanaan
kegita tersbut.
Secara
umum , tugas –tugas pokok pemimpin antara lain:
Melaksanakan
managerial , yaitu berupa kegitan pokok meliputi pelaksanaan :
Penyusunan
Rencana
Mendorong
( memotivasi ) bawahan untuk dapat bekerja dengan giat dan tekun .
Membina
bawahan agar dapat bekerrja secara efektif dan efesien.
Menyusun
fungsi manajemen secara baik.
Membina
bwahan agar dapat memikul tanggung jawab tugas masing-masing secara baik.
Fungsi
pemimpin dalam suatu organisai tida dapat di bantah merupakan sesuatu fungsi
yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuaan orgnisasi yang bersangkutan
pada dasarnya fungsi kemimpinan 2 aspek yaitu :
Fungsi
admintrasi , yaitu yakni mengadakan fomulasi kebijaksaan admintrasi dan
menyediakan fasilitasnya.selain itu ,fungsi pemimpin dalam mempegaruhi dan
mengarahkan individu atau kelompok bertujuan untuk membantu organisaasi
bergerak kearah pencapaian tujuaan. dan juga ada pula gaya memimpiiin dalam
organisasi pemimpin menerangkan kepada bawahan apa yang harus di kerjakan
bagaimana cara mengerjakan ,kapanharus di lakasakan pekerjaan itu ,dan dimana
harus dilakukan.dan pula pemimpin haus pengarahan epada bawahansupaya ada
persatuan dalam organisai .tetapi pada zaman sekarang ini bangak pemimpin dalam
organisasi yang tidak bekerja sama antara bawahan dan atasan akhirnya disitulah
timbul konflik
DAFTAR PUSTAKA
http://andriplus62.blogspot.co.id/2014/12/kepemimpinan-tugas-softskill-minggu-13.html
Langganan:
Postingan (Atom)